Jumat, 23 Mei 2008

Kumpulan Puisi

The followings are poems that depict my feelings and experience.

Marilah Pulang

Marilah pulang…
Dengan segenggam pasir putih di tangan
Marilah pulang…
Dengan teripang-teripang coklat anyir
Marilah pulang…
Lewati jangkar Dampo Awang
Sang Maestro lautan lepas
Tataplah,
Dermaga merah putih kelilingi nafas sengalmu
Nun jauh di angkasa pualam
Gulungan kapas seolah anngin jadi
Tempatmu lepaskan penat
Horizon pekat jelas menguak bahwa
Langit dan bumi tak terpisahkan
Layaknya Kau dan Aku

Rembang, Oct 2008

Panas dingin bagai padang beradu salju
Saat…
Pucuk-pucuk tembakau menghijau ranau
Deru dedaunan menghambur lepas
Semerbak cengkeh, teh, kopi…
Insan tatap lekat-lekat
Lempar pandang
Giri biru menjulang kokoh
Ditingkahi gemericik air dan semilir sang bayu
Tertutup kabut di pagi hari
Tertetesi embun penyegar dahaga
Dua pasang bola mata tercekat
Nuansa alam di bawah sana sungguh membalut luka
Damai menghunjam dada
Lalu dua pasang bola mata beradu
Bertemu bibir di satu sisi
Tersenyum dan nikmati
Walau panas dingin bagai gurun kutub
Dua insan kan rengkuh kedamaian abadi
Di dua sisi kenangan berkasih

Rembang, Oct 2008

Bila…
Kukatakan kebenaran padamu
Apakah itu mampu buatmu bertahan?
Sedang kini ku kian dekat dengan kawah hitam pekat
Kotor, keji, buruk…
Aku tlah jauh dariNya
Kini kuyakin…
Jauh dari danau ranau hatiku
Ada yang salah di diri ini
Ada sesuatu yang harus terberikan

Rembang, Oct 2008

Jejak-Jejak Nestapa

Jejak-jejak nestapa
Kulalui satu demi satu
Ada rintihan terpasung dalam kalbu
Ada ringkikan tawa kian lepas dalam rindu tak berbalas
Cerca tak lekang sirna
Berhambur di antara keping-keping luka
Tiada satu harus terseret
Terjengkang lapar, terhempas buas
Aku pun haru biru
Mengaum...

Rembang, February 11, 2008

Red Wine and Cigarettes

I smell red wine and cigarettes
I spoke into his tongue
Red wine and cigarettes
I blow a truth and a lie

Lets hit the road
When it comes into your throat
Under the reign of the king
I will sing

Rembang, February 11, 2008

Say It Right

Terbasuh suci dalam nadamu
Senandung putih merintih syahdu
Terbayang mengalun sendu
Mendayu-dayu
Meniup-niup
Terbuai haru dalam kasihMu
Terbujur lesu dalam cintaMu
Aku kaku
Biru sayu
Damba belaiMu

Rembang, May 1, 2008


Ampun...Ampun...

Mendung menggelayut
Muka cemberut
Rambut kusut
Raut wajah jadi ciut

Ah..aku tak mengerti
Apa gerangan yang terjadi
Wahai kekasih

Rona merah bibirmu
Kini terlihat sayu
Apa kau tlah dibujuk rayu
Oleh lelaki nista berdarah biru

Katakan cepat
Akan segera kusikat
Tampang mesum berlaku bejat
Anak si pejabat keparat
Banyak mudharat

Biarlah kumasuk penjara
Yang penting hati ini gembira
Melihat dirimu kembali tertawa
Walau masih terbersit rasa kecewa

Semarang, 2006

Gara-Gara Merayu dengan Gombal [Mukiyo]

Aku bilang, ”Ada pelangi di matamu.”
Dia bilang, ”Ah, jangan bohong, ah...!”
Aku cakap, ”Benar, tak bohong!
Ganti dia cakap lagi, ”Dihujani (baca Jawa: Diudani) siapa??”
Aku katakan kepadanya, ”Haha..pintar juga kamu...”
Satu kali lagi aku cakapkan kebenaran, ”Kan, kamu abis nangis...”
”Jadi lebih cakep, deh! Ada warna-warni cinta dalam dirimu, dan saat ini ku benar-benar berhasrat menciummu...”
Dan aku pun tak tahu nak cakap apalagi
Aku tercekat, mendelik mata ini
Tepat di saat rasa itu ada di tengah ubun-ubun
Ada tikaman keras menghunjam pinggang ini
Mendelik lebih kuat
Dan aku lunglai...mati...lepas nyawaku
Mungkin aku terlalu menggombal
Di belakang tlah hadir bodyguard sebesar gajah
Hhhhhhhhh.......

Rembang, May 1, 2008

Tidak ada komentar: